Punyawinda's Blog

Naikkan selalu impianmu jangan pernah puas melakukan hal pas2an, lakukanlah lebih banyak hal daripada yang diharapkan, karena seseorang itu tergantung impiannya.. jika kamu berharap untuk berhasil, pelajari sebanyak yang kamu bisa. ketelitian bukan pilihan tapi adalah suatu keharusan, karena kesempatan yang baik lebih menyukai pikiran yang siap dan selalu fokuskan semua fikiran pada pekerjaan yang ada di tangan.. karena sinar matahari tidak akan membakar sampai difokuskan.. “Good luck neng” ^_^

3 agustus 2008… dari seorang kawan, yang tiba-tiba hilang dan tak kembali…

berharap kamu membacanya, dan sudi untuk mengajariku banyak hal lagi tentang hidup..

Iklan

Hmmmmmm,,, asik neh dah masuk liburan,, pastinya segudang acara dah disiapin dong bwat ngisi liburan biar tambah seru……

Bwat kalian yang mw tau ada liburan apa aja seh di negeri sakura?? Neh dia jawabannya…

Libur Resmi

HARI LIBUR RESMI DI JEPANG

HARI LIBUR RESMI DI JEPANG

Libur Tidak Resmi
Selain hari libur resmi yang ditetapkan pemerintah, Jepang juga memiliki tradisi liburan tidak resmi.

• Libur Golden Week
Golden Week adalah pekan di akhir bulan April dan awal bulan Mei yang secara kebetulan ada 4 hari libur resmi yang hampir berurutan (29 April, 3 Mei, 4 Mei, dan 5 Mei).
Sebagian besar kantor-kantor memutuskan untuk meliburkan pegawainya selama periode Golden Week. Di tahun 2005, sebagian perusahaan dan bisnis tutup selama 10 hari mulai tanggal 29 April sampai tanggal 9 Mei, karena 2 Mei dan 6 Mei adalah dua hari kerja yang terjepit di antara hari libur resmi dan libur akhir pekan.

• Libur Obon
Libur Obon (Obon yasumi) adalah hari-hari libur tidak resmi sebelum dan sesudah tanggal 15 Agustus. Walaupun perayaan Obon tidak merupakan hari libur resmi, perusahaan dan pemilik usaha sering meliburkan diri selama beberapa hari (13-16 Agustus) atau hingga satu minggu. Libur Obon digunakan untuk berziarah ke makam dan berkumpul dengan sanak keluarga di kampung halaman. Kantor pemerintah tetap buka seperti biasa, walaupun sebagian besar pegawai meminta cuti untuk merayakan Obon.

• Libur Tahun Baru Jepang
Libur Tahun Baru Jepang (Oshogatsu yasumi) adalah kesempatan pulang ke kampung halaman dan berkumpul dengan sanak keluarga untuk merayakan hari Tahun Baru. Liburan tahun baru lamanya berbeda-beda tergantung pada kebijaksanaan masing-masing kantor. Kantor-kantor pemerintahan dan swasta biasanya tutup sejak menjelang akhir tahun (29 Desember atau 30 Desember) hingga beberapa hari sesudah Tahun Baru.

Hari-hari Perayaan Tradisi
Sebagai negara yang memelihara kelangsungan tradisi, ada hari-hari tertentu yang bukan merupakan hari libur, tetapi merupakan hari-hari khusus yang dirayakan secara luas di Jepang.
Tanggal Nama perayaan dalam Bahasa Indonesia Nama perayaan dalam Bahasa Jepang Keterangan dan tradisi yang terkait
• 3 Februari
Hari Pergantian Musim (Setsubun) Dulunya orang Jepang selalu memperingati hari-hari yang menandai pergantian musim (setahun ada 4 kali Setsubun), tetapi sekarang yang diperingati hanyalah hari yang terjepit di antara akhir musim dingin dan awal musim semi. Pada hari Setsubun ada tradisi melempar kacang kedelai untuk mengusir hantu (oni). Di kuil-kuil Shinto diadakan upacara melempar-lempar kacang kedelai yang juga dilakukan oleh bintang tamu orang-orang terkenal. Di rumah-rumah orang Jepang, kacang kedelai dilempar-lemparkan sambil mengucap mantera: Oni wa soto, fuku wa uchi (Hantu ke luar, rezeki ayo ke dalam!)
• 3 Maret
Hari Anak Perempuan (Hina Matsuri) Hari untuk mendoakan kesehatan dan pertumbuhan anak perempuan. Di rumah orang Jepang yang mempunyai anak perempuan usia sekolah, terdapat tradisi untuk memajang boneka pasangan pengantin (
ひな人形
hina ningyo) dalam upacara pernikahan zaman Heian.
• 7 Juli
Festival Tanabata (Tanabata matsuri). Konon festival ini berasal dari legenda kuno Tiongkok mengenai kisah cinta seorang penenun yang bernama Orihime and penggembala sapi yang bernama Hikoboshi. Pasangan yang sedang dilanda cinta ini hanya dapat bertemu setahun sekali di hari Tanabata, di saat tempat tinggal mereka di bintang Vega dan bintang Altair yang terpisahkan Galaksi Bima Sakti (Ama no gawa) letaknya menjadi sangat berdekatan.
Pada perayaan Tanabata, anak-anak sekolah dan pasangan yang sedang berpacaran menuliskan keinginan, harapan, dan cita-cita masa depan di atas Tanzaku (kertas persegi panjang). Tanzaku kemudian digantung di dahan-dahan pohon bambu bersama-sama dengan hiasan beraneka warna agar keinginan yang dituliskan menjadi terkabul.
• 15 Agustus
Perayaan Obon (Obon) Kesempatan berkumpul dengan sanak keluarga di kampung halaman bagi orang Jepang. Kabarnya pada hari ini para arwah leluhur diberi izin untuk turun ke bumi mengunjungi sanak keluarga.
• 15 November
Perayaan usia tujuh-lima-tiga tahun (Shichi-Go-San) Perayaan untuk mendoakan kesehatan anak perempuan yang sudah genap berusia 7 dan 3 tahun, dan anak laki-laki yang sudah genap berusia 5 tahun. Tradisi ini merupakan kewajiban bagi para orang tua untuk membawa anak-anak yang sudah genap berusia 7, 5 atau 3 tahun ke kuil-kuil Shinto untuk didoakan.
Pada perayaan ini kita bisa melihat anak-anak yang sedang merayakan Shichi-go-san mengenakan pakaian kimono yang bagus-bagus. Para orang tua memanfaatkan kesempatan ini untuk mengabadikan anak-anak yang sudah berpakaian bagus dengan membuat foto keluarga di studio foto.

PADANAN MAJAS BAHASA JEPANG DENGAN

MAJAS BAHASA INDONESIA


  • 言わぬが花

Diam adalah emas

  • 郷に入っては郷に従え

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijungjung

  • 隣の芝生は青い

Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau

  • 猿も木から落ちる

Sepandai-pandainya tupai melompat, sesekali terjatuh juga

  • 塵も積もれば山となる

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit

  • 三人寄れば文殊の知恵

Dua kepala lebih baik daripada satu

  • たてばしゃくやく、すわればあばだん、歩く姿はゆりの花

Senyumnya bak mawar merekah, dagunya bak lebah bergantung, dan suaranya merdu bak buluh perindu.

  • うわさをすれば影

Panjang Umur

  • 花よりだんご

Lebih baik kue daripada bunga

  • 転石苔を生ぜず

Lumut tidak akan tumbuh kalau batu berguling

Posted on: Juni 21, 2009

Mengenal Reki


Our deeply condolences over the loss of our brother, Reki, due to his sickness. May his soul rest in peace and the family be strengthen.”
Runi terkejut membaca pesan singkat yang baru saja diterimanya dari Ida. Pesan itu mengabarkan kepergian salah seorang teman mereka, Reki, yang selama hampir dua bulan terakhir dirawat di rumah sakit. Tanpa sadar, air mata mengalir membasahi wajah Runi yang masih terpaku.

***

Dua tahun yang lalu, saat berlangsung masa orientasi mahasiswa baru. Hari itu adalah hari kedua Runi menjadi mahasiswa baru jurusan Teknik Kimia di sebuah institut teknologi. Runi setengah berlari membawa tas plastik warna merah berisi berbagai keperluan untuk masa orientasi hari ini. Sementara tangannya yang lain membawa bibit tanaman yang akan ditanam bersama teman seangkatannya nanti. Dia tidak sendiri. Beberapa mahasiswa baru sepertinya juga sedang terburu-buru berlari menuju kampus jurusan mereka masing-masing. Mereka mudah dikenali dengan pakaian kaos putih dan rambut atau lengan yang diikat dengan pita warna tertentu.

Runi harus tiba di kampusnya sebelum pukul enam kalau tidak ingin mendapatkan hukuman dari senior-seniornya, panitia orientasi. Seharusnya dia berangkat lebih pagi terutama hari ini, di saat harus membawa bermacam-macam barang.
”Hei, sedang apa kau? Kalau tidak buru-buru…” Seorang pemuda menyapanya sambil berlari mendahuluinya. Dia juga membawa tas plastik warna merah dan cangkul yang ditutup dengan kertas koran. Runi mengenali pemuda itu sebelumnya ketika menghadiri upacara penerimaan mahasiswa baru di jurusannya kemarin.

Pemuda itu cukup jauh berlari meninggalkan Runi di belakang. Larinya bisa dibilang cepat apalagi dengan membawa barang-barang seberat itu. Runi berusaha menyusul pemuda itu tetapi sia-sia. Tiba-tiba pemuda itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Runi. Ia balik berlari kembali ke arah gadis itu. Tanpa berkata apa-apa, dia mengambil bibit tanaman yang dibawa Runi kemudian berlari menyejajarinya.
Seperti yang mereka duga, mereka berdua terlambat. Di depan portal yang ditutup, menunggu beberapa senior bermuka masam. Runi yang berusaha mengatur napasnya menatap pemuda itu dengan tatapan meminta maaf tapi yang dilihatnya hanya tersenyum tanpa beban. Mereka berdua harus menunggu hukuman sebelum diijinkan mengikuti kegiatan, sementara teman-teman mereka bersenam pagi diiringi suara teriakan dari panitia orientasi.
”Aku Reki.” Pemuda itu memperkenalkan diri.
”Runi,” jawab Runi singkat.
Runi menatap lengan kiri Reki. Pemuda itu mengikuti pandangan gadis itu kemudian setengah tersentak menepuk lengan kirinya. Dia lupa mengenakan pita warna jingga tua di lengannya, warna yang sama dengan pita yang mengikat rambut Runi. Itu artinya satu hukuman lagi. Menyadari itu, Reki setengah tak acuh menggaruk kepalanya dan berkata bahwa dia lupa karena terburu-buru.
Melihat sikap santai Reki, Runi tersenyum. Dilepasnya pita yang mengikat salah satu dari dua kuncir rambutnya dan memberikannya pada Reki. Dia membantu mengikatkan pita itu di lengan Reki.

”Bagaimana denganmu?” tanya Reki sambil merapatkan ikatan pitanya.
Runi melepas pitanya yang satu lagi dan meminta Reki membawanya sebentar sementara ia mengeluarkan gunting dari tempat peralatan tulisnya. Runi memotong pita itu menjadi dua bagian yang sama panjang dan mengikatkannya ke kedua kuncir rambutnya. Karena sedikit kesulitan mengingat kuncir rambutnya yang cukup pendek, Reki membantunya mengikatkan pita itu di rambut Runi. Runi dan Reki saling berpandangan sambil menahan senyum. Setidaknya sekarang mereka hanya tinggal menunggu satu hukuman karena datang terlambat.

***

“Hei, nani wo shimasuka (apa yang sedang kamu lakukan)?” Ida melongok ke dalam ruang sekretariat. “Ke koen (taman) yuk!”
Runi yang sedari tadi duduk di depan komputer membaca file proposal acara pekan olahraga yang menjadi tanggung jawabnya menoleh dan membalas dengan senyum. Setelah menutup file tersebut, dia meninggalkan komputer tetap menyala dan mengikuti gadis itu. Runi dan Ida bergabung dengan organisasi kemahasiswaan di jurusan mereka sejak semester lalu. Runi menjadi anggota departemen Kesejahteraan Mahasiswa sedangkan Ida bergabung dengan unit Pers Mahasiswa.
Mereka menuju sebuah ruang terbuka, yang biasa juga disebut koen (taman), dengan beberapa benchi (bangku) dan teburu (meja) yang di tata di bawah sebuah pohon besar dan rindang. Koen (Taman) itu terletak tepat di samping ruang sekretariat. Kemudian, berbatasan langsung dengan koen (taman) itu adalah lapangan basket yang sering digunakan untuk latih tanding anak-anak dari unit kegiatan Klub Basket. Sore itu pun, mereka sedang melakukan latihan rutin.

Rupanya bukan hanya Runi dan Ida yang sedang ingin menikmati semilir angin sore di koen (taman). Mereka melihat Tito, teman mereka, duduk di salah satu benchi (bangku). Runi dan Ida saling memandang untuk beberapa saat. Mereka memang hanya bisa melihat punggung Tito tapi mereka tahu bahwa teman mereka tersebut masih bersedih karena kehilangan. Hampir sebulan berlalu sejak Reki meninggal. Tito mungkin adalah orang yang paling kehilangan Reki. Kabarnya, mereka sudah bersahabat sejak di sekolah menengah.
”Tito, asyik sekali!” Ida tersenyum menyapa, mengambil tempat duduk di depan Tito sedangkan Runi memilih bangku di antara mereka berdua. Mereka bertiga duduk mengelilingi sebuah teburu (meja).
Tito balas tersenyum menyapa. Matanya menatap Runi beberapa saat sebelum kembali memperhatikan anggota klub basket yang sedang berlatih.
”Hmm, kalau kalian perhatikan, akhir-akhir ini klub basket kita terlihat kurang bersemangat,” Ida berkata sambil menoleh ke arah lapangan basket, berusaha memulai pembicaraan
Tito tersenyum tipis, ”Mungkin karena tidak ada Reki. Dia yang paling bersemangat dalam latihan basket.”
”Soudesne”(benar) dalam hati, Runi membenarkan.

Dia memang hanya memperhatikan Reki yang sedang berlatih ketika berjalan pulang melewati ruang sekretariat tetapi dia bisa melihat bahwa Reki sangat menikmati bermain basket.

***

Saat mereka duduk di semester tiga. Sore hari setelah menghadiri mata kuliah Azas Teknik Kimia II, Runi dan Ida berhenti sejenak di depan papan pengumuman di dekat ruang sekretariat. Mereka melihat sebuah pengumuman tentang rekrutmen anggota organisasi mahasiswa jurusan mereka. Hari itu adalah hari terakhir pendaftaran anggota.
”Wah, aku baru tahu kalau ada open recruitmen. Kebetulan, mereka punya unit Pers. Ayo, Runi, kita mendaftar sekarang. Di sini dikatakan mereka masih menerima pendaftaran sampai malam ini.”
Runi terdiam sesaat sebelum berkata, ”gomen (maaf), aku tidak ikut.”
Ida menatap Runi dengan pandangan bertanya. Yang ditatapnya balas tersenyum.

”Kau tahu aku tidak pintar berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang, bagaimana bisa bergabung dengan organisasi seperti itu?”
”Justru itu.” Ida menjentikkan jari. ”Ini kesempatan yang bagus untuk belajar dan menambah pengalaman.”
Ida menambahkan sambil setengah bercanda, ”Lagipula, memang kenapa kalau kau tidak pintar berkomunikasi, pemalu, kuper, dan gampang dibohongi? Aku sendiri banyak bicara, selalu ribut, dan tidak pernah mau mengalah. Tidak masalah, ’kan, karena setiap orang itu berbeda, mezurashii (unik)!” Mereka berdua tertawa.
Saat itu, beberapa orang melintas di dekat mereka. Mereka mengikuti mata kuliah yang sama dengan Runi dan Ida. Salah seorang dari mereka tanpa sengaja menabrak Runi dari samping. Orang itu Reki. Sepertinya dia sedang bercanda dengan Tito hingga tidak menyadari kalau Runi di dekat mereka. Beberapa saat, mereka berdua saling menatap.
Tito tersenyum menyapa Runi dan Ida. ”Hai, sedang apa?”
Ida menunjuk ke arah kertas pengumuman yang tadi sedang mereka baca.

”Ini, ada pengumuman rekrutmen anggota. Aku dan Runi berpikir untuk bergabung.”
Mata Tito menatap Runi dan Ida bergantian.

”sorewa ii desu (itu bagus)!! Sudah kalian putuskan ingin bergabung dengan departemen apa?”
”Aku ingin mencoba masuk unit Pers mereka, kalau Runi…”
Mereka bertiga menatap Runi, ingin tahu. Runi berpikir sejenak.

”Belum aku putuskan ikut atau tidak.”
”Doushitano (kenapa)?” Tito bertanya sambil melirik Reki yang berdiri di sebelahnya.
”Kuliah itu tsumaranai (membosankan)!!” Reki menimpali. ”Kita ’kan masih muda, tidak ada salahnya mencoba berbagai hal selain hanya belajar dan belajar.”
”Reki bergabung dengan klub basket sejak semester satu, baru beberapa kali ikut latihan tapi sudah berhasil masuk tim inti. Itu karena dia gila basket!” Tito tersenyum menimpali.
Reki melirik ude dokei (jam tangan)nya.

”Oya, aku harus ke lapangan sekarang. Ada latihan rutin.”.
”Latihan lagi? Bagaimana kalau kita berempat mengobrol di kafe sebentar?” Tito menawarkan ide. Reki menggeleng.

”Sebaiknya aku ke lapangan sekarang dan memulai pemanasan. Setelah tertidur di kelas selama hampir dua jam, aku butuh sedikit perenggangan.”
Tito, Runi, dan Ida tertawa melihat Reki merenggangkan ke dua tangannya ke atas. Mereka tahu kebiasaan Reki yang sering tertidur di kelas ketika kuliah berlangsung.
”Kalau tentang basket, kau terlalu bersemangat. Apa salahnya bolos latihan sekali-kali? Jarang-jarang kita bisa jalan dengan Runi dan Ida”
”watashitachi wa dekinai yo (kami juga tidak bisa), lebih baik kami pergi ke ruang sekretariat sekarang. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan sebelum mendaftar.” Ida memandang Runi yang kemudian mengangguk mengiyakan.

”soudesu (benar), tidak ada alasan untuk menunda atau bolos latihan. Kalau kau tidak ada kerjaan, bagaimana kalau menonton latihan klub basket dari taman?” tawar Reki sambil tersenyum setengah mengejek.

”Tidak ada kerjaan, katamu? Enak saja!” Tito balas menyikut lengan Reki.
Mereka berempat tertawa.
”Osakini” Reki berpamitan sebelum mereka beranjak pergi. ”Oya, Runi, gomenasai (maaf) tadi aku tidak sengaja menabrakmu.”

Tawa Tito meledak.

”baka!!” Dia menonjok pelan lengan Reki.
Ida tertawa terbahak-bahak sedangkan Runi hanya tersenyum simpul menyaksikan tingkah Reki dan Tito. Kemudian mereka berdua pergi ke ruang sekretariat. Runi memutuskan untuk ikut mendaftar bersama Ida.
Keluar dari ruang sekretariat, langit berwarna kemerahan menjelang senja. Runi dan Ida berhenti sejenak melihat sekumpulan anggota klub basket yang masih berlatih di tengah lapangan. Runi tersenyum memperhatikan Reki yang dengan lincah membawa bola melewati rekan-rekannya. Bajunya basah oleh keringat tapi dia terlihat menikmati, tawa tak pernah lepas dari wajahnya.

***

Pagi itu, tidak seperti biasanya, Reki terlihat sibuk mengerjakan soal Kimia Fisika II yang ada di hadapannya. Mochiron (tentu saja), saat itu mereka memang sedang mengerjakan quiz. Runi yang duduk berjarak satu kursi dari Reki, tersenyum simpul memperhatikan pemuda itu terlihat serius berkutat dengan soal-soal tersebut.
Seratus menit kemudian, waktu untuk mengerjakan quiz selesai. Ida yang duduk di belakang Runi menghampiri gadis itu sambil membawa selembar kertas, take home quiz tambahan.
”Tadi, soal quiznya chotto hen (sedikit aneh)!!” Ida berkata sedikit cemberut.
”Hen (aneh)!?” tanya Runi.
”Aneh maksudnya, aku tidak bisa mengerjakan sama sekali. Eh, sekarang ditambah ini.” Ida melambai-lambaikan kertas yang dipegangnya.
“Jyaa (kalau begitu), kita ke ruang baca untuk mencari literatur dan menyelesaikan soal itu sekarang,” usul Runi. Ruang baca adalah sebutan untuk sebuah toshokan (perpustakaan) kecil yang terdapat di jurusan mereka.
Ruang baca yang terletak di sudut lantai dua gedung jurusan Teknik Kimia itu terlihat sepi. Hanya ada satu-dua anak duduk di sudut ruangan yang terlihat sibuk dengan buku teks dan buku catatan mereka. Ida dan Runi memilih duduk di kursi yang mengelilingi sebuah meja besar yang terletak di tengah ruangan. Runi membaca lembaran soal yang didapatnya tadi dan memberi tanda beberapa poin yang dianggapnya penting sementara Ida menuju rak buku di dekat mereka untuk mencari beberapa literatur tambahan. Beberapa saat kemudian, Runi teringat buku catatannya dan beranjak menuju rak penitipan tas di depan pintu masuk.
Tak berapa lama kemudian, pintu ruang baca dibuka dari luar. Runi terkejut ketika tiba-tiba tubuhnya terdorong sehingga dia hampir menabrak rak penitipan di depannya. Runi menoleh. Matanya bertemu pandang dengan Reki.
”Ya ampun, Reki! Kenapa kau suka sekali menabrak Runi?” Tito yang mengikuti di belakang Reki berkata sambil tertawa. Reki berbalik dan menatap Tito. Wajahnya terlihat gusar. Tito bertanya pada Runi apa gadis itu tidak apa-apa. Runi menjawab dengan senyum dan menggeleng pelan.
Ida yang menyadari kehadiran mereka, datang menghampiri dengan membawa dua buku tebal yang terlihat sudah termakan usia.

”Kalian ke sini unutuk mengerjakan soal take home tadi? Quiz tadi susah sekali, pasti nilaiku hancur. Untung ada soal untuk tambahan nilai.”
”Kalau untuk Reki, soal seperti tadi bukan apa-apa. Walaupun selalu tertidur saat kuliah berlangsung, dia sama sekali tidak kesulitan menyelesaikannya. Benar kan, Reki?” Tito tersenyum ke arah Reki yang terlihat merasa tidak nyaman berada di ruangan itu.

Mendengar namanya disebut, Reki selintas menoleh.
”Dalam beberapa hal, dia memang lambat. Tapi sebenarnya atama ga ii (pintar),” imbuh Tito.

Runi dan Ida tertawa kecil menanggapi. Sedangkan Reki terlihat bingung karena tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Runi menyadari tingkah Reki yang tidak biasa.

”Doushite (kenapa)?!”
Reki terdiam menatap Runi beberapa saat.

”Daijobu (tidak apa-apa). he, wasurechatta (lupa), masih ada urusan.”
Dia bergegas menuju pintu dan memutar pegangannya. Pintu kembali terbuka dan Reki melangkah keluar. Tetapi sebelum menutup pintu, dia berbalik.

”Runi, gomenasai (maaf), tadi tidak sengaja.”
Tawa Tito dan Ida langsung meledak sedangkan Runi mencoba menahan tawa karena menyadari tatapan bernada teguran dari petugas toshokan (perpustakaan) yang duduk di depan mejanya, di dekat tempat mereka bertiga berdiri.
”Jissai wa (sebenarnya), Reki tidak suka berada di toshokan (perpustakaan). Tadi, aku yang memaksanya ke sini,” Tito menjelaskan setelah dia berusaha menahan tawanya. ”Dia merasa ”terintimidasi” melihat rak-rak yang penuh buku.”
”Terintimidasi?” Kali ini tawa Ida terdengar lebih keras sehingga petugas ruang baca akhirnya menegur mereka bertiga.
Runi memberi isyarat pada sahabatnya itu untuk menahan tawanya walaupun ia sendiri merasa geli mendengar penjelasan Tito. Benar kata Ida, setiap orang adalah pribadi yang berbeda dan unik.

Saat semester empat baru saja dimulai, mereka mendapat kabar bahwa Reki harus dirawat di rumah sakit setelah tiba-tiba pingsan ketika berlatih basket di suatu sore. Tito bercerita bahwa selama ini Reki memang sering menderita sakit kepala tetapi karena ia tidak pernah mengeluh, mereka menganggap itu hanya sakit kepala biasa. Hasil diagnosa dari rumah sakit memang belum keluar, tetapi dia diharuskan untuk rawat inap hingga diketahui kemungkinan penyakit yang diidapnya.
Karena pagi itu jadwal kuliah tidak terlalu padat, Runi, Ida, bersama beberapa teman berencana untuk menjenguk Reki. Runi dan Ida menunggu mereka di ruang sekretariat. Ida yang melihat Tito melintas di depan ruang sekretariat, memanggilnya dan mengatakan rencana mereka kemudian bertanya apakah Tito mau bergabung dengan mereka.
”Kalau kalian ingin menjenguk Reki, sebaiknya nanti sore saja, denganku. Sekarang aku masih ada kuliah. Reki pasti lebih senang kalau kita datang bertiga,” Tito berkata sambil tersenyum ke arah Runi yang menatapnya dengan tatapan khawatir.

Sebenarnya Runi ingin segera menjenguk Reki. Tetapi usul Tito memang lebih baik. Setidaknya bila bersama Tito dan Ida, Runi tidak akan merasa canggung berbicara dengan Reki. Ida dan Runi terpaksa mengatakan pada teman mereka bahwa mereka tidak bisa ikut menjenguk Reki pagi itu.
Sore harinya, mereka bertiga sampai di rumah sakit dan langsung menuju ruangan tempat Reki dirawat. Tito mengenali kedua orang tua Reki dan seorang adik perempuannya yang sedang berbicara di depan pintu kemudian menyapa mereka. Setelah sesaat beramah tamah, mereka meninggalkan Tito, Ida, dan Runi untuk berbincang dengan Reki. Runi tersenyum. Melihat keluarga Reki, rasanya dia paham lingkungan seperti apa yang bisa membentuk orang seperti Reki.
”Wasurechatta (lupa)!! Tadi aku membawa beberapa tabloid olahraga dan beberapa buku bacaan untuk Reki. Tertinggal di mobil,” Tito tiba-tiba berkata sebelum mereka masuk ke dalam kamar tempat Reki dirawat.

”Runi, kau masuk saja dulu. Biar Ida membantuku mengambil barang-barang itu,” dia berkata sambil memberi isyarat pada Ida.

Ida tersenyum dan menepuk pundak Runi, ”Cepat sapa dia!”
Sebenarnya Runi lebih memilih untuk pergi bersama mereka. Dia tidak tahu harus berbicara apa dengan Reki di dalam. Selama ini, mereka memang tidak bisa dikatakan akrab. Hanya sesekali berbicara bila ada kesempatan. Itupun selalu ada Ida dan Tito bersama mereka.
Runi mengetuk pelan pintu di hadapannya, karena tidak ada balasan, dia membuka perlahan kenop pintu dan melongok. Di sana dia melihat Reki terbaring di atas tempat tidur. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Menyadari seseorang di pintu, dia membuka mata. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling menatap.
”Hai…”
”Hai, aku masuk ya.”

Suatu hari tengah malam, Runi duduk di dekat jendela kamarnya, menatap langit yang malam itu ramai oleh taburan bintang. Bulan purnama berwarna jingga tua menghias salah satu sudut langit malam itu. Runi pernah mendengar sesuatu tentang bulan purnama ketika berwarna jingga tua yang katanya akan membawa sebuah keajaiban. Itu mungkin benar, hanya dengan melihatnya, Runi merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya. Mungkin sama seperti saat melihat pelangi setelah hujan turun atau ketika melihat bintang berekor.
Sebuah pesan masuk ke HP Runi.

”Langit malam ternyata cantik, ’ya! Apa bulan purnama berwarna jingga itu wajar? Reki”
Runi tersenyum membaca pesan tersebut dan segera membalasnya. Mungkin Reki sedang bosan sendiri di kamar serba putih itu. Malam itu, mereka masih saling mengirim pesan beberapa kali, bercerita tentang berbagai hal yang terlintas di pikiran mereka saat itu, sebelum Runi mengakhiri dan meminta Reki untuk beristirahat.

Setelah kunjungannya yang pertama, Runi belum bisa kembali menjenguk Reki karena kesibukan dengan kegiatan organisasi dan Ujian Tengah Semester yang sudah dimulai. Tapi mereka masih saling berkirim pesan hampir setiap hari. Hal itu cukup meyakinkan Runi bahwa Reki akan segera pulih dan kembali beraktifitas. Hingga suatu sore yang sunyi di kamarnya, Runi menerima pesan dari Ida mengenai kepergian Reki.

***

Sebulan berlalu sejak kepergian Reki. Suatu sore, seperti sore yang biasa, Runi, Ida, dan Tito duduk-duduk di taman memperhatikan anak-anak anggota klub basket yang sedang berlatih.
Tito mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah pita berwarna jingga tua, dan menyerahkannya pada Runi sambil tersnyum.

”Ini milikmu kan? Reki pernah bercerita tentang perkenalan kalian di awal masa orientasi. Sebenarnya sudah lama Reki ingin mengembalikannya, tapi kau tahu bagaimana dia.”

Runi memandangi pita berwarna jingga tua yang sekarang ada di tangannya. Matanya tiba-tiba terasa penuh tapi ia tidak ingin Ida dan Tito melihatnya menangis.
Malam harinya, di dalam kamarnya, Runi duduk di depan jendela yang terbuka. Langit malam itu mendung, tidak ada bintang ataupun bulan purnama berwarna jingga. Sebuah buku harian berada di pangkuannya. Digenggamnya erat pita jingga tua itu di tangan kirinya kemudian ia mulai menulis dengan sebuah pena di tangan kanannya.

Mengenal Reki
1.pelari yang cepat
2.sahabat setia
3.sangat mencintai Basket
4.selalu tertidur di kelas saat kuliah berlangsung
5.alergi dengan perpustakaan
6.sedikit lambat dalam beberapa hal ^ _^
7……

Siluet Senja

Sekarang aku tidak berada di kota kecilku, kota aku dilahirkan dan dibesarkan, kota di mana semua mimpi kurajut, kota tempat ku melewati indahnya masa kecilku. Masih terekam jelas di ingatanku saat ku menaiki gerobak itu, gerobak kayu yang berfungsi mengangkut semua keranjang sampah ke sebuah gudang tempat penyimpanan seluruh keranjang milik para pedagang di pasar yang kebanyakan dari mereka bukan asli orang kotaku. Tempat tinggal mereka di kota lain, kira-kira satu jam perjalanan dengan menggunakan angkutan umum.

Kepulangan merekalah yang kami, anak-anak kecil tunggu, sebab Mang Oyon mengangkat keranjang-keranjang mereka ke gerobaknya, kami bisa menikmati sebuah permainan yang amat menyenangkan dengan keranjang itu. Kami biasanya naik ke keranjang, memegang tambang pengikat keranjang itu bagai memegang tali kekang kuda. Lalu kami bermain kuda-kudaan, bersorak-sorai memacu kuda keras-keras. Hal ini kami lakukan berulang-ulang meski Mang Oyon sering memelototi kami, menyuruh kami turun dari keranjang itu sambil mengancam dengan sapu lidi besar bergagang kayu yang dipegangnya.

”Dasar anak-anak bandel. Turun, ayo! Nanti barang-barang di dalamnya rusak. Belum nanti ada guntingnya, bagaimana kalau nusuk pantat kalian, mau?” tegurnya.

Biasanya tanpa protes, meski agak kecewa, kami turun dari kuda imajiner itu lantas menunggu Mang Oyon memasukkan sampah pasar yang sudah dikumpulkannya ke dalam keranjang-keranjang sampah ke tempat pembuangan. Dia biasanya mendahulukan mengangkut keranjang-keranjang barang itu dengan gerobak kayunya menuju gudang yang tidak begitu jauh dari pasar.

Kalau Mang Oyon mulai mengangkut keranjang-keranjang barang dengan gerobaknya, kami akan mengikutinya sambil mendorong gerobak itu dari belakang, meski kami tahu Mang Oyon merasa keberatan dan ingin melarang kami. Alasan Mang Oyon bisa kami maklumi, ia takut kami kepanasan di jalan, lagipula banyak mobil besar pengangkut barang dagangan ke pasar yang lalu lalang. Tapi kalau kami sudah merengek dan memaksa untuk ikut, Mang Oyon tidak bisa mengelak lagi. Ia akhirnya akan membiarkan kami ikut mendorong gerobaknya itu.

Gerobak pun akhirnya bergerak meluncur. Suaranya berderak-derak, berderit-derit. Dalam keadaan begitu, aku selalu ingin gerobak itu segera pergi meninggalkan pasar sebelum Emak memanggil dan melarangku ikut bersama anak-anak lain. Alasan Emak tak berbeda dengan Mang Oyon, tapi kalau aku sudah merengek, Emak akhirnya mngizinkan juga sambil tidak lupa menyuruhku memakai sendal dan wanti-wanti kepada Mang Oyon supaya menjaga kami.

Bukan apa-apa kami mau mendorong gerobak itu sampai gudang, karena jika kembali ke pasar, gerobak itu akan kosong. Nanti kami akan berebut menaikinya. Jadilah kami pengisi gerobak itu, dan Mang Oyon dengan gembira pula menarik kami menuju pasar lagi. Kami bersorak-sorai di sepanjang jalan menuju pasar. Begitulah berkali-kali dalam satu hari, karena berkali-kali pula Mang Oyon mengangkat keranjang-keranjang barang dari pasar. Tapi kami tidak ikut kalau yang diangkut keranjang sampah.

Di pasar permainan seperti tidak pernah habis. Terutama tentang Mang Oyon dan gerobaknya. Jika gerobak Mang Oyon tengah ”parkir” (sedang tidak digunakan karena Mang Oyon sedang sholat atau makan), kami pun kembali berebutan menaikinya. Tapi kali ini dengan permainan baru, berjungkat-jungkit di atas gerobak itu. Bentuk gerobak yang satu ini memang unik, gagang penariknya panjang, tempat keranjang-keranjang ditumpuk dibuat datar, di belakangnya diberi penahan dari besi yang tidak terlalu tinggi. Dua rodanya terbuat dari kayu yang dilapisi potongan karet ban. Dengan demikian, bisa dijadikan permainan jungkat-jungkit.

Semua itu aku lakukan sejak aku masuk sekolah sampai kelas 4 SD. Sambil menemani ibu menunggui warungnya, aku masih bermain-main di pasar, masih mendorong-dorong gerobak Mang Oyon, masih digalaki Mang Oyon. Masih memungut cangkang-cangkang permen, dus-dus bekas rokok dari sampah yang sudah dikumpulkan Mang Oyon untuk main anjang-anjangan. Tetapi ketika aku duduk di bangku SMP, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman sekolah. Mulai bermain jauh dan jarang bermain di pasar lagi.

Suatu hari, sepulang sekolah, aku pergi ke pasar dengan masih berseragam. Mang Oyon kebetulan tengah menyapu di depan warung Emak. Mang Oyon menatapku seperti tak percaya.

”Euleuh-euleuh, ini teh si Eneng tea? Baru kemaren main-main di gerobak Emang, sekarang udah jadi gadis cantik. Sudah bisa ngurus diri. Dulu mah, Neng, Eneng teh lucu sekali. Pipinya item-item kaya surabi.” kata Mang Oyon sambil berdecak-decak.

Aku senyum, dan menjawab, ”iya. Dulu saya suka ngerepotin Emang, ya?”

”Emang mah seneng, direpotin terus kalian mah, serasa ada yang nemenin Emang, dari pada kaya sekarang sepi, tidak ada  yang ngerebutin gerobak Emang lagi. Sudah kelas berapa Neng sekarang teh?”

”kelas 3 Mang”

”wah, sebentar lagi keluar ya, mau nerusin kemana Neng?”

”Maunya seh terus kuliah”

”Bagus atuh, pengen jadi apa atuh Eneng teh?”

”Katanya si Eneng teh pengen jadi Insinyur Mang, do`ain ya Mang!” Emak ikut menimpali.

Mang Oyon geleng-geleng kepala setengah kagum setengah bangga.

”ya, mudah-mudahan saja, Ceu”, katanya pada Emak.

”Euceu mah ada biaya, bisa menyekolahkan anak-anak. anak Euceu sudah pada berhasil, lebih berhasil daripada orangtuanya. Saya ikut bangga, Ceu!” Mang Oyon berkata-kata begitu dengan agak lirih, matanya menerawang jauh, lalu ia meneruskan pekerjaannya, agak lamban. Waktu itu kuperhatikan wajah Mang Oyon begitu cepat menjadi tua, gerakannya pun tidak segesit dulu.

~~~~00000~~~~

Waktu berlalu begitu cepatnya. Kini aku tidak pernah membantu lagi orangtuaku di pasar. Aku tinggalkan kota kecilku hanya untuk meraih mimpiku. Setelah menyelesaikan S1, aku mendapat beasiswa untuk terus belajar meski di negeri orang. Negeri yang selalu ada dalam khayalku, negeri yang menurut kakek buyutku negeri yang tak berperasaan. Karena hanya dengan waktu 3,5 tahun, jajahannya terasa lebih kejam daripada mereka yang telah menjajah 3 abad sekalipun. Negeri di mana para Samurai berasal dan bunga Sakura mekar dengan indahnya.

Dulu, mereka menjajah negeriku untuk mengambil semua kekayaan alamnya, supaya mereka bisa menjadi negara yang kaya dan menjadi negara penguasa. Kini tanpa kita sadari kita telah kembali dijajah. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka punya, dengan kemajuan-kemajuan yang telah berhasil mereka ciptakan dan mereka kembangkan bukan hanya di negeri mereka, tetapi negeriku pula.

Memang, semua itu sangat besar manfaatnya, negeriku dimanjakan dengan segala sesuatu yang telah dibuat mereka untuk membantu memudahkan semua urusan. Tetapi, sampai kapan negeriku akan terus-menerus ada di bawah mereka. Semua yang kita hasilkan masih jauh tertinggal dari mereka, padahal aku yakin, negeriku dengan segala kelebihannya bisa lebih dari mereka. Tapi, mengapa sampai sekarang negeriku masih tetap seperti ini?!! Inilah pertanyaan yang selalu menghantuiku, yang selalu menggelayut di benakku, dan ini pulalah yang menjadikan semangatku tetap berkobar untuk terus belajar.

Ketika mengetahui bahwa aku mendapat kesempatan untuk belajar di negeri ini, aku merasa seluruh alam raya ikut tersenyum melihatku menangis bahagia. Tujuh lapis langit pun seolah ikut senang mendengar impian terbesarku  ada di depan mata.

Aku ingin belajar banyak dari mereka. Belajar bagaimana mereka bisa menjadi seperti sekarang ini, bisa terus bangkit setelah sebelumnya mereka pernah benar-benar hancur. Belajar tentang kerja keras dan semangat mereka. Belajar tentang semua hal baik yang patut aku tiru serta kutanamkan dalam diriku dan bukan hanya untuk diriku saja tapi untuk ku beritahukan kepada negeriku tentang mereka yang patut kita contoh supaya kita bisa lebih baik dari mereka.

Di sini kumenemukan semua yang kucari. Disini pula aku mendapat seseorang yang akan menemaniku menempuh hidup bersama. Aku ingin rencana kita untuk menikah tahun depan dapat terealisasi, aku sudah bosan mendengar orangtua dan keluargaku terus mewanti-wanti agar aku segera menikah. Mereka selalu bilang bahwa setinggi-tingginya pendidikan yang ditempuh perempuan ujung-ujungnya akan kembali ke dapur. Andai saja mereka tahu, aku pun ingin segera berumah tangga, tapi aku sudah bertekad aku tidak akan menikah sebelum pendidikanku selesai.

Dua tahun sudah aku di negeri ini, kini aku sedang menunggu judul tesisku disetujui oleh profesor pembimbingku. Berarti tinggal beberapa bulan lagi aku tinggal di kamar ini, kamar yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupku.

Berat rasanya ketika aku ingat aku harus pulang, aku punya tanah air, aku punya kampung halaman, aku punya kota kecilku dan aku punya tanggung jawab yang besar untuk membangun negeriku. Aku harus mengembalikan semua yang telah ku dapatkan di sini pada masyarakat di negeriku, karena aku disekolahkan mereka. Aku disini karena mereka dan aku harus pulang untuk mereka.

Aku tak tahu apakah aku bisa menjadi seperti yang mereka harapkan padaku. Kadang terlintas dalam benakku bagaimana jika aku tidak bisa membalas semua yang telah negeriku berikan padaku, tapi cepat-cepat kutepis fikiran itu dan menjadikannya semangat baru. Aku yakin aku bisa. Aku yakin Allah akan selalu ada bersama hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Aku yakin aku bisa berbakti untuk negeriku.

Lamunanku buyar ketika ku dengar suara dari handphone, lamunan tentang masa lalu dan masa depan yang akan segera aku hadapi. kulihat nama yang tertera di layar, ”Matsumoto sensei”. Segera ku angkat handphone-ku dan berbicara dengan profesorku itu. Sontak aku terkejut, ketika beliau berkata bahwa judul tesisku diterima. Berarti semakin cepat aku menyelesaikan tugas akhirku, maka semakin cepat pula aku kembali ke negeriku.

Tak akan pernah hilang dalam ingatanku tentang semua ini, tentang perjalanan hidupku di sini, negeri kedua yang aku cintai setelah negeriku. Semua tentang Jepang pasti terekam dan takkan pernah hilang.

~~~~0000~~~~

End

hai hai hai…

Welcome in my blog… its all about me and everything that i know…

disini qta bisa sharing tentang apapun yang penting bemanfaat keyz…

Iklan

  • Tidak ada
  • masX: kehidupan luar biasa jikalau tiap hari adalah hari libur...
  • punyawinda: yupz.. lam kenal jg..
  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.